Apa Yang Harus Dikerjakan

Apa yang harus dikerjakan? Banyak, banyak sekali kerjaan yang mustinya bisa kukerjakan. Namun saat ini aku bingung aku musti ngapain? Bukan karena tidak ada pekerjaan, tapi bingung apa yang harus dikerjakan. Seringkali hal semacam itu kualami. Ketika banyak waktu tapi bingung harus memulai dari mana?

Memulai, saatnya mulai seharusnya bukan sesuatu yang membingungkan. Kalau saja aku punya perencanaan yang jelas. Kalau saja aku punya tujuan yang jelas, tentunya tidak akan bingung memulai dari mana.

Tapi justru yang menjadi kebingungan adalah apa tujuannya. Kurang jelasnya penetapan tujuan itulah yang menyebabkan aku seringkali bingung harus memulai dari mana. Mau ngapain dulu, mana yang dikerjakan dulu, . aku tak tahu.

Barangkali aku harus mulai menata diri. Menata dari apa yang menjadi tujuanku. Mau dibawa kemana arah jalan hidupku. Mau memulai dari mana pasti bisa dilakukan ketika aku tahu tujuan.

Tidak usahlah tujuan yang muluk-muluk. Tetapkan dulu tujuan dari yang paling sederhana. Tujuan yang aku bisa mencapainya. Tujuan yang mungkin terjangkau. Tujuan yang tidak terlalu berliku. Karena aku bukan orang yang senang dengan tantangan. Aku bukan orang yang tidak gampang menyerah.

Ketika ada tantangan sedikit saja, biasanya aku gampang melempem. Ketika ada sesuatu hal dirasa menyulitkan aku dengan mudahnya menyudahi langkah yang baru saja kuayunkan.

Aku sebenarnya sadar, sangat menyadari kekurangan itu. Namun tidak gampang rasanya untuk meningkatkan motivasi diri. Tidak mudah rasanya memberikan semangat pada diri sendiri. Semangat untuk terus berjuang. Mencapai apa yang menjadi keinginan. Keinginan yang terus menggebu-gebu. Bergejolak dalam hati, namun tidak  seimbang dengan langkah yang diambil.

 

Ultah Yang Terlupakan

Hari ini Rabu, 19 Januari  2016. Ulang Tahun anak pertamaku Oksiati Khoirunnisa yang kalau di rumah kami panggil nisa, cuma teman-temannya di sekolah memanggilnya Oksi, mungkin diambil dari penggalan nama depannya.

Entah mengapa Ultah kali ini ko kami bisa lupa. Saya ga ingat, bapaknya pun kelihatannya tidak ingat. Yang ada dalam benak kami tentang Nisa, adalah dimana dia mau meneruskan sekolahnya karena saat ini Nisa sudah kelas Tiga MTs dan sebentar lagi, harus melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.

Beberapa sekolah yang ada pondokannya memang sedang kami incar, karena kelihatannya dia masih minat tingginya untuk meneruskan sekolah dan tinggal di pondok pesantren. Namun tentu saja sekolah yang sesuai dengan kemampuan, baik kemampuan secara akademis maupun finansial keluarga.

Semoga Nisa bisa mendapatkan sekolah yang terbaik, sesuai dengan cita-cita dan harapannya, juga harapan kami semua.

Sosial Media

Canda tawa di antara kita tak usai berderai. Dari pagi bangun tidur hingga menjelang tidur malam. Semua topik nyaris kita tertawai, tak ada tema tanpa saling sindir. Semua bahan bisa kita jadikan bahan candaan dari hanya sekedar fisik hingga rutinitas harian. Sungguh kehidupan nyaris tanpa batas ada di sana.

Semua itu terjadi ketika puluhan tahun kemudian setelah perpisahan kita di bangku sekolah menengah pertama, kita bertemu lagi di media sosial. Awalnya hanya sekedar pertautan di facebook, di bbm dan WA. Di sana kita membentuk grup, di situ kita berkomunikasi.

Puluhan tahun terpisah di dunia nyata, ternyata kita dipersatukan dunia maya. Dunia maya yang seolah-olah meniadakan batas ruang dan waktu. Ada di manapun kita, bisa saling tahu. Sedang apa kita aktivitasnya bisa langsung diakses. Sungguh tiada batas di antara kita kini. Yang semula kabarpun tiada kita mengerti, saat ini apapun yang kita lakukan bisa diketahui saat itu juga. Tersebar dengan cepatnya diketahui oleh siapa saja dalam grup kita.

 

UTI

punya baby lagi ternyata menyenangkan, rasanya jadi tambah semangat, pelepas lelah dan penghilang penat. walaupun kadang-kadang ya bikin kesal juga apalagi kalau minta digendoong terus… uti..uti… celotehmu itu lho yang suka bikin ibu gemes..mes..mes…pertanyaan mu tentang saudara-saudara, bapak ibu dan lain-lain… bapak endi,,, ibu endi,, mamas endi,, mba nisa endi??? khas sekali.. keluar dari mulut kecilmu… bibir mana,,, kepala mana..rambut mana… bener-bener bikin gemes.

Saiki usiamu wis meh 4 tahun, tapi tingkahmu semakin membuat ibu tak berkutik, Kamu minta diambilin makan, minta disuapin, minta dikelonin, minta mimi ibu,,, duh bikin ibu bingung padahal ibu harus ngerjain ini itu.

Semakin bertambah usiamu bukannya semakin jauh dari ibu. Lengket terus setiap hari. Berangkat sekolah TK minta dianterin ibu. Pulang sekolah penginnya nyusul ibu ke kantor. Untungnya ga minta ditungguin ibu di sekolah. Kamu masih mau ditunggui sama mama di sekolah. Mama pengasuh yang setiap hari harus jenuh nunggu kamu sekolah.

Di sekolah memang diajari kemandirian. Namun ternyata 3 tahun di tempuh dari PAUD hingga Tk, belum menunjukkan tingkat kemandirian tinggi. Masih aja kamu minta ditunggui, hingga pembagian rapot di semester awal TK ini bu guru bilang, kemampuan untuk berpisah dan tidak ditunggui oleh ibunya masih belum mandiri. Namun dengan pengalaman terbarumu, kamu bisa sekolah sendiri, mudah-mudahan bisa menjadi momen yang membuatmu mandiri di sekolah.

Semoga, .. ibu doakan semoga kamu mampu menjadi anak yang mandiri, bermanfaat bagi dirimu sendiri, keluarga, lingkungan, agama, bangsa dan negara. Aamiin…

Mimpi

Awal tahun, awal bermimpi, begitu terus setiap tahunnya. Setiap kali mau pergantian tahun, ada ingin terbersit dalam hati, dituangkan dalam sebuah catatan resolusi tahun depan.

Begitupun di akhir tahun ini, ingin menuangkan kembali mimpi-mimpi yang tertunda. Mimpi yang tak terbangun. Mimpi yang tak tercapai. mimpi yang mungkin hanya sebuah mimpi dan belum menjadi kenyataan.

Kapankah mimpi itu akan terwujud? Entahlah karena nyatanya mimpi itu tak dibarengi dengan langkah-langkah konkrit. Seyogyanya mimpi yang tertulis, mimpi yang terekam, mimpi yang tercatat, mimpi yang beredar dalam ruang benak di otak, menuntun langkah ke sana. Namun seiring dengan berjalannya waktu, mimpi itu terhapus, mimpi itu tertelan waktu. Waktu yang tak pernah mau bersahabat dengan kemalasan. Waktu yang tak pernah mau kembali. Waktu yang terus berjalan dan tak mempedulikan kalau mimpi itu ternyata masih tertinggal jauh di belakang.

Kalaupun memang semacam itu, biarlah mimpi itu tertelan perjalanan waktu yang telah lalu. Tidak terlalu terlambat barangkali untuk menyongsong kembali mimpi di masa depan. Masa depan yang harus diukir dari waktu sekarang. Masa depan yang harus tergambar dari pena saat ini.

Kita harus kembali menuliskan mimpi-mimpi. Kita harus kembali optimis menuju masa depan. Bahkan hingga waktu tak tersisa lagi, kita harus tetap bemimpi.

Berubah menjadi lebih baik adalah impian terbaik. Perubahan yang didasari oleh petunjuk terbaik dalam kehidupan. Perubahan yang bermakna sesuci maknanya sebagai manusia. Manusia pemimpi bukanlah manusia yang hanya hidup dalam angan-angan. Manusia pemimpi adalah manusia yang berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya dengan langkah nyata. Manusia pemimpi adalah manusia yang mampu menangkap realita kehidupan. Kehidupan saat ini yang masih perlu diperbaiki. Kehidupan sekarang yang tidak terlalu menyenangkan akan diubah menjadi hidup yang lebih nyaman.

Apakah impianmu ? Inilah 1001 impianku…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Hari Bersejarah

Senin, 14 Desember 2015, Seperti biasa rutinitas pagi, aku awali dengan kerjaan di dapur, menyiapkan makan pagi untuk keluarga tercinta. Pagi itu tiba-tiba ada sms dari mama, orang yang biasa ngasuh anakku, menemaninya sekolah TK dan bantu-bantu kerjaan di rumah. Sms yang beliau kirim berbunyi, nyuwun sewu bu, dinten niki mboten sageb pangkat, bojone kulo ngorong-ngorong mawon, kelaran. (maaf bu, hari ini saya tidak bisa berangkat, suami saya menjerit-jerit kesakitan ). Akhirnya ya sudah, semua pekerjaan rumah mulai dari masak, nyapu, ngepel, nyuci baju harus aku kerjain semua. Alhamdulillah pagi itu lumayan bangun gasik, jadi bisa kelar semua pekerjaan hingga tiba waktunya nganter sekolah anakku yang TK sekalian berangkat kantor.

Tahu, mamanya ga datang dan harus sekolah sendiri, sebenarnya Uti dah mulai nangis. Tapi pagi itu, aku ingin memberinya pelajaran tentang kemandirian. Biarlah nanti mungkin dia nangis kalau harus sekolah sendiri dan tidak ditunggui seperti biasanya. Tapi tak apalah, biar dia belajar, merasakan bahwa dia bisa sekolah sendiri tidak ditungguin. Aku ingin Uti bisa mandiri, lebih mandiri terutama dari urusan sekolah.

Kalau selama ini dia harus selalu ditungguin di sekolah, walaupun yang nunggu juga lumayan jenuh juga. 2 jam harus nongkrong di sekolahnya. Hari ini dia pasti akan merasakan sesuatu  yang berbeda. Dia sekolah sendiri.

Ternyata benar juga, ketika aku anter ke sekolah, dia masuk kelas sambil meleleh air matanya. Namun begitu tangannya digandeng bu guru, dia mau mengikuti dan belajar dengan baik.

Tiba waktunya menjemput, aku segera bergegas ke sekolahnya, walaupun sebenarnya pagi itu ada rapat dan masih berjalan. Namun aku ijin juga untuk menjemput uti sebentar, karena aku ingin begitu dia keluar kelas, ada aku ibunya di depan. Menunggu dia pulang sekolah, sehingga tidak menangis.

Begitu dia keluar kelas, seperti biasa sambil menggendong tas punggungnya, mencari sepatunya dan matanya mencari-cari aku ibunya. Begitu ketemu pandangan, aku sunggingkan senyum dan berikan jempol padanya sambil bilang, Hebat… kamu bisa sekolah sendiri, tidak ditungguin.

Senangnya bukan main. Aku juga lega, ternyata dia bisa. Dan begitu kami ketemu, dia berceloteh dengan riangnya, Uti sekolah sendiri, Uti ga ditungguin lagi. Uti anak hebat kan bu!!! Ya Uti anak hebat, Ibu juga senang kamu sekolah sendiri. Besok lagi ya Bu. Wah ternyata, pengalaman pertama dia sekolah sendiri, memberikan sebuah sensasi perasaan yang luar biasa.

Semoga kelak kamu akan jadi anak yang mandiri, menatap masa depan dengan selalu optimis dan tidak akan pernah merasa sendiri karena Allah selalu ada bersamamu.

 

Ketika Suami Sakit

Akhir-akhir ini kesehatan suami sedang menurun lagi. Keluhan -keluhan yang beberapa waktu ke belakang tidak terasakan, akhir-akhir ini banyak disampaikan. Bahkan karena gangguan kesehatannya, aktivitas rutin ke sekolah yang biasa dijalani juga agak terganggu. Bagaimana tidak?

Nyeri akibat penjepitan saraf tulang belakang yang sudah cukup lama tak dikeluhkan, hampir 2 tahunan sudah tak terasakan, belakangan jadi keluhan sehari-hari. Bahkan karena sakitnya tersebut, pernah sampai hampir tak sadarkan diri di hadapan murid-muridnya di kelas. Nyeri itu tiba-tiba datang dan hampir tak tertahankan, akhirnya ngegelosor di kelas ketika sedang mengajar.

Nyeri yang dirasakan tersebut, bukan tanpa sebab sebenarnya. Beberapa waktu yang lalu, ketika kami sedang bermain air di curug telu Desa Karang Salam Baturraden, bapaknya anak-anak sempat terpeleset beberapa kali sampai jatuh ke air dan hampir tenggelam, setelah sebelumnya kakinya mampir kejedug batu. Akibat gesekan tersebut, walau tidak terlihat memar baik saat baru jatuh maupun beberapa hari setelahnya, namun akibatnya nyeri dirasakan terus. Nyeri dimulai area pinggang, ke pantat hingga paha sampai ujung jari.

Obat nyeri diberikan ketika pertama kali periksa di klinik langganan BPJS kami. Namun beberapa waktu berlalu, nyeri tidak semakin berlalu. Akhirnya kami diberi rujukan untuk ke spesialis. Jadilah periksa di dokter spesialis saraf. Seperti beberapa tahun  sebelumnya obat nyeri yang diberikan tidak sedikit. Ada beberapa jenis obat dan itupun dalam jumlah yang banyak. Untuk 1 bulan pemakaian. Namun karena sudah agak bosan minum obat, setiap kali merasa nyeri selalu minta untuk diberi minyak gosok dan semacamnya.

Kasihan banget kalau lagi kesakitan. Kadang sampai keluar keringat dingin. Ikut terkencing-kencing rasanya kalau lagi nyerinya datang. Guling-guling dan tak jenak posisi.

Ya mudah-mudahan akan baik pada akhirnya, semoga Allah SWT segera mengangkat penyakitnya dan memberinya selalu kesabaran.