Oksiati Khoirunnisa

Anakku yang pertama namanya Oksiati Khoirunnisa. Nama itu kami kasihkan setelah melalui pertimbangan dan pemikiran yang mendalam. Dengan musyawarah antara aku dan suamiku, jadilah anak pertama kami yang berjenis kelamin perempuan, lahir pada tanggal 19 Januari 2011 kami beri nama tersebut.

Oksiati Khoirunnisa berasal dari kata Oksiati yang kami ambil dari sejenis obat perangsang kelahiran yaitu Oksitosin karena proses kelahirannya harus diinduksi akibat tidak adanya  kontraksi padahal ketubannya sudah pecah. Ketika diberikan obat perangsang itulah, kontraksi terus-menerus terjadi dan walaupun aku merasakan nyeri yang sangat, tetapi aku senang, akhirnya persalinan akan berlangsung.

Alhamdulillah lahir anakku perempuan dengan berat 3.5 kg dan panjang 48 cm. Bayi yang montok. bayi yang sehat. lahir langsung menangis, memecah kesunyian di awal malam, karena dia lahir jam 20.20 WIB.

Sekarang dia sudah besar, sudah kelas 1 MAN 3 Yogyakarta. Dia sendiri yang meminta untuk bersekolah di luar kota. Semoga dengan memilih sekolah di sana, semakin mandiri dan berprestasi.

Iklan

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mengumpulkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

Ciri ilmiah :

  • Rasional
  • Empiris
  • Sistematis

 

Syarat data untuk penelitian :

  • Valid (derajat ketepatan)
  • Reliabel (derajat konsistensi/keajegan)
  • Objektif (interpersonal agreement)

Data yang valid maka reliabel dan objektif, tetapi tidak sebaliknya.

 

Data valid diperoleh dengan cara :

  • Menggunakan instrumen penelitian yang valid.
  • Mengunakan sumber data yang tepat dan cukup jumlahnya.
  • Menggunakan metode pengumpulan data yang tepat/benar.

 

Data reliabel diperoleh dengan cara :

  • Menggunakan instrumen penelitian yang reliabel.

 

Data objektif diperoleh dengan cara :

  • Menggunakan sampel atau sumber data yang besar (jumlahnya mendekati populasi).

 

Jenis data menurut sifatnya :

  1. Data kualitatif
  2. Data kuantitatif
  • Data diskrit / nominal
  • Data kontinum

–          data ordinal

–          data interval

–          data rasio

 

Tujuan Penelitian, secara umum :

  1. Penemuan
  2. Pembuktian
  3. Pengembangan

 

Kegunaan Penelitian, secara umum :

  1. Memahami masalah
  2. Memecahkan masalah
  3. Mengantisipasi masalah

 

 

JENIS / RAGAM PENELITIAN

  1. A.    Menurut Fungsi / Kedudukan
    1. 1.      Penelitian Akademik (Mahasiswa S1, S2, S3), ciri/penekanan :
  • Merupakan sarana edukasi
  • Mengutamakan validitas internal (cara yang harus benar)
  • Variabel penelitian terbatas
  • Kecanggihan analisis disesuaikan dengan jenjang (S1, S2, S3)
  1. 2.      Penelitian Profesional (pengembangan ilmu, teknologi dan seni), ciri/ penekanan :
  • Bertujuan mendapatkan pengetahuan baru yang berkenaan dan ilmu, teknologi dan seni.
  • Variabel penelitian lengkap
  • Kecanggihan analisis disesuaikan kepentingan masyarakat ilmiah
  • Validitas internal (cara yang benar) dan validitas eksternal (kegunaan dan generalisasi) diutamakan
  1. 3.      Penelitian Institusional (perumusan kebijakan atau pengambilan keputusan), ciri/penekanan :
  • Bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengembangan kelembagaan
  • Mengutamakan validitas eksternal (kegunaan)
  • Variabel penelitian lengkap (kelengkapan informasi)
  • Kecanggihan analisis disesuaikan untuk pengambilan keputusan.

 

  1. B.     Menurut Kegunaan
    1. 1.      Penelitian Murni (Pure Research) / Penelitian Dasar

Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

  1. 2.      Penelitian Terapan (Applied Research)

Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis.

 

  1. C.    Menurut Tujuan
    1. 1.      Penelitian Eksploratif

Bertujuan untuk mengungkap secara luas dan mendalam tentang sebab-sebab dan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.

  1. 2.      Penelitian Pengembangan

Bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan suatu prototipe baru atau yang sudah ada dalam rangka penyempurnaan dan pengembangan sehingga diperoleh hasil yang lebih produktif, efektif dan efisien.

  1. 3.      Penelitian Verifikatif

Bertujuan untuk mengecek kebenaran hasil penelitian yang dilakukan terdahulu/ sebelumnya.

  1. 4.      Penelitian Kebijakan

Penelitian yang dilakukan suatu institusi/lembaga dengan tujuan untuk membuat langkah-langkah antisipatif guna mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di kemudian hari.

 

  1. D.    Menurut Pendekatan
    1. 1.      Penelitian Longitudinal (Bujur)

Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses dan waktu yang lama terhadap sekelompok subjek penelitian tertentu (tetap) dan diamati/diukur terus menerus mengikuti masa perkembangannya (menembak beberapa kali terhadap kasus yang sama).

  1. 2.      Penelitian Cross-Sectional (Silang)

Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses kompromi (silang) terhadap beberapa kelompok subjek penelitian dan diamati/diukur satu kali untuk tiap kelompok subjek penelitian tersebut sebagai wakil perkembangan dari tiap tahapan perkembangan subjek (menembak satu kali terhadap satu kasus).

 

  1. E.     Menurut Tempat
    1. 1.      Penelitian Laboratorium

Eksperimen, tindakan, dll

  1. 2.      Penelitian Perpustakaan

Studi dokumentasi (analisis isi buku, penelitian historis, dll).

  1. 3.      Penelitian Kancah / Lapangan

Survei, dll.

 

  1. F.     Menurut Kehadiran Variabel

Variabel = hal-hal yang menjadi objek penelitian yang nilainya belum spesifik (bervariasi).

  1. 1.      Penelitian Deskriptif

Penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya sudah ada tanpa proses manipulasi (data masa lalu dan sekarang).

  1. 2.      Penelitian Eksperimen

Penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya belum ada sehingga perlu dilakukan proses manipulasi melalui pemberian treatment/ perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian yang kemudian diamati/diukur dampaknya (data yang akan datang).

 

  1. G.    Menurut Tingkat Eksplanasi
    1. 1.      Penelitian Deskriptif

Penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan suatu variabel secara mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan variabel dengan variabel lainnya.

  1. 2.      Penelitian Komparatif

Penelitian yang dilakukan untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda.

  1. 3.      Penelitian Asosiatif

Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel atau lebih.

Penelitian asosiatif merupakan penelitian dengan tingkatan tertinggi dibanding penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian asosiatif dapat dibangun suatu teori yang berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala/fenomena.

Ada 3 jenis hubungan antar variabel :

  1. a.      Simetris (karena munculnya bersama-sama)

 

 

 

 

X tidak mempengaruhi Y atau sebaliknya.

 

  1. b.      Kausal / sebab akibat

 

 

 

 

X mempengaruhi Y

 

  1. c.       Interaktif / Resiprokal (timbal balik)

 

 

 

 

X dan Y saling mempengaruhi

 

  1. H.    Menurut Caranya
    1. 1.      Penelitian Operasional

Penelitian yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada suatu bidang tertentu terhadap proses kegiatannya yang sedang berlangsung tanpa mengubah sistem pelaksanaannya.

  1. 2.      Penelitian Tindakan

Penelitian yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada suatu bidang tertentu terhadap proses kegiatannya yang sedang berlangsung dengan cara memberikan tindakan/action tertentu dan diamati terus menerus dilihat plus-minusnya, kemudian diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat.

  1. 3.      Penelitian Eksperimen (dari caranya)

Penelitian yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dengan cara memberikan treatment/perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian guna membangkitkan sesuatu kejadian/keadaan yang akan diteliti bagaimana akibatnya.

Penelitian ini merupakan penelitian kausal (sebab akibat) yang pembuktiannya diperoleh melalui komparasi/perbandingan antara :

    1. Kelompok eksperimen (diberi perlakuan) dengan kelompok kontrol (tanpa perlakukan); atau ;
    2. Kondisi subjek sebelum perlakuan dengan sesudah diberi perlakuan.

 

  1. I.       Menurut Metodenya (Jenis-jenis Penelitian
    1. 1.      Metode Survei
    2. 2.      Metode Eksperimen
    3. 3.      Metode Expose Facto
    4. 4.      Metode Naturalistik/Alamiah
    5. 5.      Metode Tindakan
    6. 6.      Metode Evaluasi
    7. 7.      Metode Kebijakan
    8. 8.      Metode Sejarah/Historis

 

Marzuki, C. 1999. Metodologi Riset. Jakarta: Erlangga.

Dekapitasi

A. Definisi
Adalah suatu tindakan untuk memisahkan kepala janin dari tubuhnya dengan cara memotong leher janin agar janin dapat lahir per vaginam. Dekapitasi dilakukan pada persalinan yang macet pada letak lintang dan janin sudah meninggal.

B. Syarat
1. Janin mati.
2. Konjugata vera panggul ibu lebih besar dari 6 cm.
3. Pembukaan serviks lengkap
4. Selaput ketuban sudah pecah atau dipecahkan.
5. Leher janin dapat dicapai pervaginam.
6. Tidak ada tumor / obstruksi jalan lahir.

C. Indikasi
Dekapitasi terutama dilakukan pada anak mati dengan letak lintang kasep. Kalau belum kasep boleh kita lakukan juga VE walaupun anak telah mati, terutama pada anak yang kecil.
1. Janin mati dengan keadaan gawat darurat / bahaya pada ibu (maternal distress), sehingga perlu segera dikeluarkan tanpa memungkinkan menunggu kemajuan proses persalinan secara fisiologis.
2. Janin mati yang tidak mungkin lahir spontan pervaginam.

D. Kontraindikasi
Janin hidup

E. Persiapan Alat :
– Pengait Braun

Gambar 1. Pengait Braun
– Gunting Siebold

Gambar 2. Gunting Siebold

– Tampon kasa atau tali untuk mengikat tangan yang menumbung

F. Teknik Dekapitasi :
a. Mematahkan tulang leher dengan pengait Braun
b. Menggunting leher dengan gunting Siebold
c. Memotong leher dengan gergaji Gigli

a. Mematahkan tulang leher dengan pengait BRAUN
Teknik :
1. Bila janin letak lintang disertai lengan menumbung, maka lengan yang menumbung ini diikat dengan tali (lus) lebih dahulu dan ditarik ke arah bokong oleh seorang asisten.
2. Tangan penolong yang dekat dengan leher janin dimasukkan ke dalam jalan lahir dan langsung mencengkeram leher dengan ibu jari berada di depan leher dan jari lainnya berada di belakangnya. Tangan penolong yang lain memasukkan pengait Braun ke dalam jalan lahir dengan ujungnya menghadap ke bawah. Pengait ini dimasukkan dengan cara menelusuri tangan dan ibu jari penolong yang berada di leher dan pengait dikaitkan pada leher.
3. Dengan pengait Braun ini leher janin mula-mula ditarik kuat ke bawah dan pengait Braun diputar ke arah kepala janin. Pada saat yang bersamaan seorang asisten menekan kepala. Pengait Braun diputar sedemikian rupa sehingga tulang leher patah (diketahui dengan bunyi tulang yang berderak). Waktu memutar sebaiknya asisten menahan kepala dari luar, agar kepala ini tidak terlalu bergerak yang mungkin dapat menyebabkan rupture uteri.

Gambar 3. Dekapitasi dengan mematahkan tulang leher menggunakan pengait Braun
4. Meskipun tulang leher sudah patah tetapi bagian-bagian lunak yaitu kulit otot-otot belum putus. Apalagi bila janin belum mengalami maserasi.
5. Untuk memutuskan jaringan lunak ini dapat dipakai gunting Siebold. Dengan memakai gunting Siebold kulit dan otot-otot leher secara avue (dengan penglihatan) dipotong sedikit demi sedikit, sehingga putus seluruhnya, setelah kepala terpisah dengan badan janin selanjutnya badan janin dilahirkan lebih dahulu dengan menarik tangan janin. Sebenarnya tidak perlu memutuskan leher seluruhnya, ada baiknya jika beberapa carik kulit tetap menghubungkan badan dan kepala, sebab memudahkan lahirnya kepala.

b. Menggunting leher dengan gunting SIEBOLD
Cara ini terutama dipergunakan jika bahu telah jauh masuk ke dalam rongga panggul, hingga leher mudah dicapai.
1. Satu tangan penolong yang dekat dengan kepala janin dimasukkan ke dalam jalan lahir. Di dalam vagina dipasang spekulum.
2. Gunting Siebold dimasukkan ke dalam jalan lahir dengan menyusuri tangan penolong yang ada di dalam sampai mencapai leher janin.
3. Dengan lindungan tangan yang di dalam, secara avue leher janin digunting sedikit demi sedikit mulai dari kulit, otot-otot dan tulang-tulang leher sampai leher terpotong.
4. Setelah kepala anak terpisah dari badannya, maka badan anak dilahirkan dulu dengan menarik pada lengan yang menumbung.
5. Kepala anak dikeluarkan dengan memasukkan ibu jari atau jari telunjuk ke dalam mulut anak dan jari lainnya pada rahang bawah, kemudian kepala anak ditarik ke luar (cara Mauriceau). Kepala ditarik keluar dengan suboksiput sebagai hipomoklion, sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, dahi, dan seluruh kepala janin.
1 Pada tangan yang menumbung, terlebih dahulu dipasang lus agar dapat menarik tangan ke arah badan janin.
2 Spekulum dipasang di bagian atas dan bawah vagina untuk melindunginya dari bahaya trauma oleh gergaji.
3 Salah satu ujung gergaji Gigli disambung dengan gulungan perban steril, lalu dipegang oleh tangan yang berhadapan dengan leher janin. Gulungan perban dilingkarkan pada leher janin, kemudian ditarik hingga gergaji dapat melingkari leher dan dipasang pengaitnya.
4 Gergaji disilangkan, tanpa menyentuh satu sama lainnya, pengait ditarik silih berganti sampai leher janin putus.
5 Badan janin dapat dilahirkan dengan menarik tangan bayi yang menumbung.
6 Kepala dilahirkan dengan cara Mauriceau.

Kemana Langkahku?

Aku galau. Galau karena kutak tahu bagaimana kehidupanku akan berjalan. Aku galau karena aku tak mengerti bagaimana kehidupanku ke depannya. Ini adalah sebuah kegalauan yang sangat menyedihkan. Sebuah kegalauan yang membuat hati miris. Sebuah kegalauan yang sangat membahayakan. Sungguh galau yang tiada bermakna. Galau yang tidak perlu. Jika saja aku tahu bagaimana seharusnya bersikap. Kalau saja aku tahu bagaimana seharusnya bertindak.

Kenapa sampai aku tak mengerti bagaimana harus melangkah?  Bukankah banyak yang bisa dijadikan contoh? Bukankah banyak yang bisa dijadikan teladan. Entahlah aku tak mengerti mengapa kalau melihat orang sukses aku cuma mengaguminya. Kenapa kalau lihat orang berhasil aku hanya terpesona. Tidakkah di balik keberhasilan mereka ada sesuatu yang harus aku contoh?  Bukankah dibalik kesuksesan mereka ada sesuatu yang bisa aku ikuti ?

Waktupun terus berjalan tanpa aku aku bisa melakukan satu perubahanpun. Waktu pun terus berjalan dan banyak yang berubah. Namun mengapa aku masih seperti ini saja. Aku galau kalau memikirkan itu semua.

Tak terbayang dalam pikiranku bagaimana orang lain  bisa sesukses itu. Menjadi trilyuner dengan aset dimana-mana. Tak pernah terlintas dalam otakku bagaimana bisa mereka sekaya itu. Bahkan aku, untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-haripun rasanya masih gali lubang tutup lubang. Melihat di siaran televisi misalnya betapa banyaknya kekayaan mereka, betapa beragamnya usaha mereka.  Sungguh tak terpikir bagaimana mereka bisa mengelola itu semua. Melihat di internet betapa mudahnya mereka memperoleh penghasilan yang besar, rasanya aku cuma gigit jari.

Tak cuma dalam hal kekayaan dan  kemampuan mengembangkan usaha, dalam hal keilmuan juga rasa-rasanya aku belum ada apa-apanya. Kalau orang lain bisa dapat beasiswa ini, itu sampai ke jenjang pendidikan S3 sekalipun bahkan sampai di luar negeri. Aku masih ada di sini-sini juga. Tak terbayang dalam otakku bagaimana bisa mereka mendapatkan itu semua. Caranya bagaimana? Kepada siapa mereka belajar? Bagaimana mereka mengasah kemampuan otaknya sehingga bisa secerdas itu? Bagaimana mereka mengasah kemampuannya sehingga bisa mendapatkan itu semua. Rasanya untuk memikirkan saja otakku tidak mampu.

Seringkali aku juga  melihat bahkan pernah   mendengar cerita kesuksesan beberapa penulis besar. Bagaimana mereka bisa sukses dan keliling dunia dari dunia tulis menulis. Tetapi aku? Rasanya masih jalan di tempat.   Bahkan untuk mengembangkan kemampuan menulispun masih begini-begini saja. Rasanya tak pernah ada kemajuan apapun. Kepada siapa aku harus mencontoh ? Kepada siapa aku harus belajar?

Kalau masalah kepada siapa harus mencontoh atau belajar, sebenarnya banyak. Banyak yang bisa kita jadikan contoh. Bahkan grup yang membuka tutorialpun banyak. Di internet kita bisa belajar cara menulis. Kita bisa ikut grup penulis kalau mau karya kita dikritisi orang lain. Jadi sebenarnya bukan tidak ada atau kurang ajang untuk belajar. Tapi kemauan untuk belajarlah yang kurang. Kemauan untuk berusaha yang perlu ditingkatkan. Kemauan untuk mau belajar, membuka hati dan pikiran, menggerakkan diri untuk belajar dan berusaha lebih yang masih kurang.

Kalau saja aku mau belajar lebih banyak dari orang lain. Kalau saja aku mau bertanya kepada orang lain. Kalau saja aku mau mencontoh dan meniru orang lain yang lebih sukses, lebih berhasil, tentunya akan ada dorongan motivasi untuk berbuat lebih banyak. Menumbuhkan kemauan diri dulu yang perlu didorong. Menumbuhkan keinginan untuk belajar dan berusaha lebih keras yang perlu ditingkatkan.

Selain itu juga harus didukung dengan menumbuhkan keyakinan bahwa segala sesuatu yang aku lakukan adalah dlam rangka ibadah. Sehingga motivasi ku bukan hanya sekedar motivasi pribadi, keluarga atau kelompok. Motivasiku adalah untuk kemaslahatan umat.

Mengapa aku mesti kaya? Mengapa aku harus hidup berkecukupan.

Itu semua adalah agar aku tidak menjadi beban bagi orang lain. Agar aku bisa membantu orang lain. Bagaimana aku bisa menolong yang kekurangan kalau aku sendiri merasa kurang? Bagaimana aku bisa berbagi kalau tak ada yang dibagi? Jadi motivasiku untuk hidup kaya berkecukupan bukan hanya untuk sekedar diriku sendiri. Hidup kaya bukan berarti hidup mewah. Menikmati kekayaaan bukan dengan menikmati kemewahan. Namun hidup dalam kesederhaan. Merasa cukup dan kaya dengan apa yang ada sehingga mudah tanganku untuk mengulurkan bantuan. Kalau aku masih merasa kekurangan, tanganku pasti tidak akan mudah terulur untuk menebar kebaikan.

Mengapa pula aku harus berilmu tinggi? Bukannya dengan kondisi yang sekarang ini sudah mencukupi? Bukannya dengan situasi yang sekarang sudah bisa hidup?

Kalau mau hidupnya begitu-begitu saja silahkan saja tidak mau belajar. Kalau mau hidupnya tidak ada perubahan, tidak ada kemajuan ya silahkan saja tidak mencari ilmu. Padahal dalam ajaran agamapun sudah cukup jelas dikatakan bahwa mencari ilmu itu kewajiban . Mencari ilmu itu dari buaian hingga ke liang kubur. Artinya aku harus belajar seumur hidup. Amalan yang tidak ada ilmunya bahkan juga tertolak. Amalan yang asal saja tidak sesuai tuntunan syariah agama juga tidak diterima. Jadi aku harus belajar seumur hidup. Jangan pernah merasa sudah cukup dengan ilmu yang ada. Jangan pernah merasa puas dengan kkemampuan yang dimiliki. Ilmu Allah itu sangat luas. Apa yang sudah aku punya itu sangat sedikit. Bagaikan mencelupkan ujung jari ke samudera yang luas. Hanya setetes yang bisa tertangkap di jariku. Begitu sedikit dibandingkan luasnya samudera yang ada.

Terus kenapa aku harus menulis ?

Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Peribahasa itu rasanya cocok kalau aku pertanyakan pada diriku? Apa yang akan aku tinggalkan ketika aku telah tiada? Bagaimana diriku akan terus diingat oleh orang-orang yang mengenalku? Tentu saja nama. Karena harta bisa jadi akan habis. Badan bisa saja hancur menyatu kembali dengan zat asal penciptaannya yaitu tanah.

Nama yang baik akan terus dikenang. Sebuah karya akan terus  terpakai dan bermanfaat. Agar aku bisa dikenal, dikenang dan memberikan kemanfaatan walau telah tiada salah satunya adalah dengan menulis. Ada yang mengatakan menulislah untuk keabadian. Tulisan yang baik, bermanfaat, memberikan motivasi akan lebih abadi. Orang banyak bisa mengambil manfaatnya berhari-hari kemudian walaupun mungkin jasadku sudah hancur.

Jadi kenapa aku harus menulis?

Menulislah untuk ibadah. Sebarkan kebaikan dengan tulisan. Tulisan akan lebih berkesan daripada sekedar ucapan verbal. Perkataan yang aku luncurkan ketika menasehati atau mengajarkan ilmu mungkin hanya sekedar masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Namun kalau dalam bentuk tulisan  dan aku sebarluaskan mungkin akan ada yang mengambil manfaatnya besok di lain hari. Dengan menulis juga ilmu yang aku punyai tidak akan hilang. Seberapa banyak ilmu yang dikuasai tanpa aku tuliskan akan hilang begitu saja dengan kematianku. Namun kalau aku tulis tentu akan lebih abadi dan bisa terus diambil manfaatnya walau jasadku telah tiada.

 

Kesempatan

Kata orang kesempatan itu tidak datang dua kali. Kata orang kesempatan itu hanya datang dan berkunjung pada orang yang mau memanfaatkan kesempatan itu. Kata orang kesempatan itu tidak akan datang lagi. Ketika kita tidak memanfaatkan kesempatan yang pernah datang, maka dia akan terlewat begitu saja. Kata orang kesempatan yang datang tapi tidak kita manfaatkan maka bisa menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Aku tidak begitu memperhatikan apa kata orang-orang tersebut. Namun nyatanya ketika ada kesempatan aku tidak mesti bisa memanfaatkan. Ketika ada kesempatan aku tidak mesti sanggup memanfaatkannya. Bukan karena tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu. Bukan karena tidak ingin mendapatkan hasil dari kesempatan itu, namun kemalasan dan ketidakmauanlah yang membuat kesempatan itu tidak aku manfaatkan.

Menyesal rasanya aku harus kehilangan sebuah kesempatan menerbitkan buku tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak. Buku itu aku susun namun rasanya belum sempurna. Aku tidak percaya diri untuk menerbitkannya. Bukan karena apa-apa, aku masih takut-takut jangan-jangan nanti terlibat dalam plagiat. Karena aku menyusunnya memang tidak memenuhi kaidah-kaidah penyusunan buku.

Ada sebuah penerbit yang menawarkan penerbitan bukunya padaku. Aku juga sudah ingin sekali menerbitkannnya. Namun ternyata sampai saat ini belum juga terwujud. Aku takut dihadang biaya yang besar. Selain itu ada  perasaan takut menghadapi tuntutan plagiatisme. Menyusun sebuah buku katanya harus menggunakan bahasa sendiri. Namun ternyata buku yang aku susun bukan buku semacam itu. Buku yang aku susun hanyalah kumpulan dari berbagai macam materi yang aku dapatkan dari mana saja. Materi-materi tersebut aku kumpulkan dalam sebuah naskah. Andaikan naskah tadi bisa diterbitkan menjadi satu kumpulan naskah pastilah sudah jadi buku.

Aku mimpi….  

Jam Beker

Deringan jam itu terasa sangat nyaring. Terdengar mengagetkan dan membuat mata yang masih terkantuk itu membuka. Belum lama rasanya mata itu terlelap, namun kini harus terbuka dan menatap hari yang baru lagi. Malas sekali rasanya bangun dari tempat tidur. Kelelahan sehari kemarin rasanya belum terbayar dengan tidur yang hanya sejenak. Berapa jam yang lalu mata itu masih terbuka untuk memelototi pekerjaan yang rasanya tiada habisnya. Pekerjaan yang kini harus ditekuninya setelah beberapa bulan yang lalu diPHK dan tiada penghasilan tetap lagi.

Pekerjaan sebagai editor buku di sebuah percetakan kini harus dijalaninya. Deadline waktu yang terus harus dikejar membuat dirinya bekerja tiada mengenal siang dan malam. Siang hari di mana waktunya orang-orang bekerja, dia juga harus bekerja. Malam hari di mana orang-orang telah pergi ke kasur yang empuk untuk sekedar merebahkan badannya, dia masih harus terus memelototi satu demi satu buku-buku yang tertumpuk di ruang kerjanya untuk dia periksa. Apakah buku-buku yang telah tercetak itu betul-betul utuh halamannya? Tidakkah ada lembaran yang sobek atau tidak utuh? Apakah ada lembaran yang hilang? Sungguh sebuah pekerjaan yang kelihatannya mudah namun membutuhkan ketelitian yang luar biasa.

Hanya bermodalkan jam beker dia bisa lebih mengatur waktunya. Kapan harus bangun untuk meneruskan lagi pekerjaannya, dia kini tergantung pada jam tersebut. Sebuah jam yang kelihatannya biasa saja, namun bagi dia sungguh sangat berharga. Bukan karena harganya yang mahal, bukan karena bentuknya yang bagus, namun karena kenangan pada jam itu lah yang tak mungkin rasanya terlupakan begitu saja.

Jam beker itu adalah hadiah ulang tahun dari seorang teman. Teman yang kini telah pergi meninggalkannya dan tak mungkin kembali lagi. Teman terbaik yang telah menuntunnya dan membawanya pada jalan kebenaran. Jalan yang kini ditempuhnya setelah sekian lama hidup tanpa pegangan yang jelas. Dulu di saat dia masih muda dan kuat, malah bergelimang dengan maksiat. Minum-minuman keras merupakan kebiasaan yang sering dilakukannya ketika berkumpul dengan teman-teman sekampungnya. Memalak di jalan untuk sekedar beli minuman merupakan perilaku yang sering dilakukannya ketika uang tak ada di saku. Kebiasaan yang terus dia lakukan hingga suatu waktu tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang merubah kehidupannya. Seseorang yang mampu menunjukkannya pada jalan kebenaran. Ini adalah hidayah dari Allah SWT. Namun lewat perantara orang tersebut.