Kesempatan

Kata orang kesempatan itu tidak datang dua kali. Kata orang kesempatan itu hanya datang dan berkunjung pada orang yang mau memanfaatkan kesempatan itu. Kata orang kesempatan itu tidak akan datang lagi. Ketika kita tidak memanfaatkan kesempatan yang pernah datang, maka dia akan terlewat begitu saja. Kata orang kesempatan yang datang tapi tidak kita manfaatkan maka bisa menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Aku tidak begitu memperhatikan apa kata orang-orang tersebut. Namun nyatanya ketika ada kesempatan aku tidak mesti bisa memanfaatkan. Ketika ada kesempatan aku tidak mesti sanggup memanfaatkannya. Bukan karena tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu. Bukan karena tidak ingin mendapatkan hasil dari kesempatan itu, namun kemalasan dan ketidakmauanlah yang membuat kesempatan itu tidak aku manfaatkan.

Menyesal rasanya aku harus kehilangan sebuah kesempatan menerbitkan buku tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak. Buku itu aku susun namun rasanya belum sempurna. Aku tidak percaya diri untuk menerbitkannya. Bukan karena apa-apa, aku masih takut-takut jangan-jangan nanti terlibat dalam plagiat. Karena aku menyusunnya memang tidak memenuhi kaidah-kaidah penyusunan buku.

Ada sebuah penerbit yang menawarkan penerbitan bukunya padaku. Aku juga sudah ingin sekali menerbitkannnya. Namun ternyata sampai saat ini belum juga terwujud. Aku takut dihadang biaya yang besar. Selain itu ada  perasaan takut menghadapi tuntutan plagiatisme. Menyusun sebuah buku katanya harus menggunakan bahasa sendiri. Namun ternyata buku yang aku susun bukan buku semacam itu. Buku yang aku susun hanyalah kumpulan dari berbagai macam materi yang aku dapatkan dari mana saja. Materi-materi tersebut aku kumpulkan dalam sebuah naskah. Andaikan naskah tadi bisa diterbitkan menjadi satu kumpulan naskah pastilah sudah jadi buku.

Aku mimpi….  

Jam Beker

Deringan jam itu terasa sangat nyaring. Terdengar mengagetkan dan membuat mata yang masih terkantuk itu membuka. Belum lama rasanya mata itu terlelap, namun kini harus terbuka dan menatap hari yang baru lagi. Malas sekali rasanya bangun dari tempat tidur. Kelelahan sehari kemarin rasanya belum terbayar dengan tidur yang hanya sejenak. Berapa jam yang lalu mata itu masih terbuka untuk memelototi pekerjaan yang rasanya tiada habisnya. Pekerjaan yang kini harus ditekuninya setelah beberapa bulan yang lalu diPHK dan tiada penghasilan tetap lagi.

Pekerjaan sebagai editor buku di sebuah percetakan kini harus dijalaninya. Deadline waktu yang terus harus dikejar membuat dirinya bekerja tiada mengenal siang dan malam. Siang hari di mana waktunya orang-orang bekerja, dia juga harus bekerja. Malam hari di mana orang-orang telah pergi ke kasur yang empuk untuk sekedar merebahkan badannya, dia masih harus terus memelototi satu demi satu buku-buku yang tertumpuk di ruang kerjanya untuk dia periksa. Apakah buku-buku yang telah tercetak itu betul-betul utuh halamannya? Tidakkah ada lembaran yang sobek atau tidak utuh? Apakah ada lembaran yang hilang? Sungguh sebuah pekerjaan yang kelihatannya mudah namun membutuhkan ketelitian yang luar biasa.

Hanya bermodalkan jam beker dia bisa lebih mengatur waktunya. Kapan harus bangun untuk meneruskan lagi pekerjaannya, dia kini tergantung pada jam tersebut. Sebuah jam yang kelihatannya biasa saja, namun bagi dia sungguh sangat berharga. Bukan karena harganya yang mahal, bukan karena bentuknya yang bagus, namun karena kenangan pada jam itu lah yang tak mungkin rasanya terlupakan begitu saja.

Jam beker itu adalah hadiah ulang tahun dari seorang teman. Teman yang kini telah pergi meninggalkannya dan tak mungkin kembali lagi. Teman terbaik yang telah menuntunnya dan membawanya pada jalan kebenaran. Jalan yang kini ditempuhnya setelah sekian lama hidup tanpa pegangan yang jelas. Dulu di saat dia masih muda dan kuat, malah bergelimang dengan maksiat. Minum-minuman keras merupakan kebiasaan yang sering dilakukannya ketika berkumpul dengan teman-teman sekampungnya. Memalak di jalan untuk sekedar beli minuman merupakan perilaku yang sering dilakukannya ketika uang tak ada di saku. Kebiasaan yang terus dia lakukan hingga suatu waktu tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang merubah kehidupannya. Seseorang yang mampu menunjukkannya pada jalan kebenaran. Ini adalah hidayah dari Allah SWT. Namun lewat perantara orang tersebut.  

Notebook Baru

Alhamdulillah aku punya notebook baru. Notebook yang dibelikan oleh suamiku. Aku tahu suamiku memang pengertian. Sangat pengertian. Suamiku tahu kebutuhanku. Suamiku tahu kalau aku memang sangat membutuhkan barang ini. Notebook bagiku adalah alat kerja. Aku bisa berkarya dengan barang itu. Kehilangan laptop yang dulu amat sangat menyiksa. Seolah-olah aku kehilangan sebagian dari diriku. Banyak data tersimpan di sana. Data yang amat penting untukku. Namun sayang entah kemana laptopku itu.

Maling yang mengambilnya mungkin tak tahu, betapa berharganya laptop itu bagiku. Harganya mungkin tidak seberapa. Barang itu sudah lumayan lama, jadi mungkin di pasaran sudah tidak berharga. Namun datanya yang sangat aku butuhkan. Tapi ya sudahlah. Mungkin dia memang harus terlepas dariku. Mungkin dengan kehilangan laptop itu aku bisa menjadi lebih baik.

Kenangan bersama laptop yang lama memang tidak hanya sekedar kenangan yang baik. Laptop itu tahu apa yang terjadi padaku. Dia yang bersamaku sehari-harinya. Lebih dari 8 jam sehari berada dalam genggamanku. Kalau saja dia bisa berbicara, mungkin dia akan menceritakan apa saja yang sudah aku tulis di dalamnya. Apa saja yang sudah terjadi denganku.

Laptop itu adalah bukti semuanya. Kalau sekarang dia telah menghilang, mungkin memang lebih baik begitu. Agar tidak lagi dia bicara,  agar tidak lagi dia menyampaikan apa yang sudah aku lakukan. Namun apapun itu, itu adalah masa laluku. Masa lalu yang harus aku jadikan pelajaran, sepahit apapun. Pelajaran berharga bahwa aku masih punya kehidupan yang jauh lebih berharga. Kehidupan nyata, kini dan nanti.

Aku sangat berharap dengan note book baru ini aku akan semakin banyak berkarya. Karya yang berguna untuk perbaikan kehidupan diriku, keluargaku dan karierku. Semoga dengan notebook baru ini aku semakin semangat, semakin bisa menghasilkan karya yang berharga. Karya yang bisa dihargai dengan kebaikan. Kebaikan dunia dan akhirat.

 

Buku Ajar Yang Tak Pernah Terbit

Betapa inginnya aku punya buku ajar. Sebagai tenaga pengajar yang sudah malang melintang di dunia pengajaran perguruan tinggi berpuluh tahun tepatnya sejak tahun 1998, (walau sampai saat ini belum juga aku peroleh gelar fungsional) aku termasuk tenaga pengajar yang mandul. Bagaimana tidak? Tak satupun buku ajar pernah aku tulis. Bukan tanpa keingininan sebenarnya, kalau selama ini tak satupun karya pernah dihasilkan.

Keinginan besar menggebu-gebu, namun ketika sudah memulai tak pernah mengakhiri. Ada beberapa konsep yang pernah aku buat, tetapi tak satupun aku selesaikan. Bahkan pernah ada sebuah  penerbitan buku menelpon agar aku mencetakkan bukuku di penerbitannya. Namun ketika aku  mengiyakan, ternyata sampai batas waktu yang kujanjikan karya itu tidak selesai. Aku mengingkari janjiku. Bukan karena tidak punya konsep, namun karena konsep itu tidak selesai.

Mengapa ya, banyak penulis lain yang berhasil menerbitkan buku sedangkan aku sendiri tidak ?

Beberapa kali mengobrol dengan orang-orang yang pernah mencetakkan bukunya, ternyata memang kelemahannya ada pada diriku. Mereka punya niat yang sama, tetapi niat tersebut diwujudkan dengan semangat yang tinggi. Mungkin lebih tepatnya diselesaikan dengan cara keterpaksaan yang tinggi. Mereka dikumpulkan dengan fasilitas dari kantor tempatnya mengajar selama dua hari penuh diworkshopkan di sebuah hotel, tidak diperkenankan keluar hotel, apalagi jalan-jalan, ditambah di tungguin hasil karyanya oleh sebuah percetakan, akhirnya sebuah konsep yang awalnya hanya naskah setengah jadi, mateng dan bisa disetorkan ke penerbit untuk diterbitkan dan jadilah sebuah buku ajar. Sungguh luar biasa bagiku, dengan kesibukan yang nyaris sama, bahkan mungkin beliau-beliau ini lebih sibuk dariku, mereka bisa, kenapa aku tidak?

Pernah juga ada yang cerita, mereka bisa menerbitkan sebuah buku bahkan banyak buku karena punya jadwal tersendiri untuk menyelesaikan sebuah naskah. Mereka meniatkan diri untuk membagi waktu yang sama-sama 24 jam dengan 1-2 jamnya untuk menulis. Secara rutin jadwal tersebut ditaati dan jadilah beberapa karya buku yang luar biasa.

Sekaranglah saatnya aku membuktikan bahwa aku bisa, aku bisa menerbitkan sebuah buku ajar.

Salah satu faktor yang membuat diriku ragu-ragu untuk memasukan buku ajar tersebut ke penerbitan adalah komentar dari pimpinanku. Pada saat aku menyerahkan bahan ajar yang sudah aku buat untuk ditandatangani beliau, aku ditanya “ Kenapa formatnya seperti buku?”. Pertanyaan itu disampaikannya dengan nada tidak setuju, tidak berkenan dengan format yang aku sampaikan. Waktu itu aku menjawab karena ingin punya sebuah buku. Namun beliau tidak berkenan dan memerintahkan aku untuk mengulang printoutnya dengan format lain. Dari situlah naskah buku yang sudah aku buat, diganti formatnya dan keinginan untuk menerbitkan dalam bentuk sebuah buku hilang. Bahkan hingga akhirnya, karena mata hati beliau sudah terbuka, bahwa menerbitkan buku itu penting, beliau memerintahkan aku untuk menyelesaikan naskahnya. Namun betapa kecewanya diriku, ketika kesempatan itu datang, naskahku telah hilang bersama dengan laptop yang diambil orang tak bertanggung jawab dan celakanya lagi aku belum membackup datanya.

Dari awal lagi aku bekerja, dari awal lagi aku memulai. Menata hati, meniatkan diri. Memulai untuk kemudian berharap untuk mengakhiri dengan sebuah naskah buku yang jadi dan siap diterbitkan. Apapun yang terjadi naskah itu harus jadi. Apapun yang terjadi aku harus mampu menerbitkan sebuah buku ajar. Walau hanya sekedar tenaga pengajar yang tidak punya gelar profesional seorang dosen, aku harus bisa menerbitkan sebuah karya. Karya yang menjadi bukti dedikasiku di dunia pengajaran, yakni sebuah buku ajar. Aku harus bisa. Aku memang bisa. Bisa karena keinginanku yang kuat. Bisa karena motivasiku yang dalam, ada atau tidak ada dukungan dari pimpinan.

Daripada naskah yang selama ini terkonsep tanpa hasil, dan tersimpan begitu saja dalam bentuk data. Dengan fasilitas yang sudah aku punya kembali, notebook baru sudah ditangan, dibelikan oleh suami. Aku harus mewujudkannya. Mudah-mudahan aku punya uang untuk menerbitkannya. Semoga aku punya keberanian untuk memasukan ke sebuah penerbitan dan merealisasikannya. Aamiin, semoga Allah meridloi keinginan, harapan, cita-citaku dan langkah yang kulakukan.

Ngomong-ngomong tentang kenapa aku hingga saat ini belum punya gelar profesional seorang dosen, adalah sebuah cerita tersendiri. Lumayan panjang kalau diceritakan, namun intinya hal tersebut terhalang karena aku belum punya karya tulis yang dipublikasikan. Selama ini aku memang tidak memikirkannya. Penelitian yang kulakukanpun hanya berakhir di sebuah laporan. Belum pernah aku menerbitkannya. Ternyata menerbitkan karya penelitian adalah penting. Menjadi bukti eksisinya seorang pengajar perguruan tinggi yang disebut dengan dosen. Menjadi persyaratan untuk disebut dosen profesional. Aku memang terlambat, terlambat menyadari. Namun itu bukan berarti dunia mati. Aku masih bisa untuk memulai. Walau tak sekedar untuk disebut dosen profesioal namun menjadi bukti eksistansi diri bahwa aku ada dengan sebuah karya. Bahwa aku ada membawa manfaat bagi sesama. Menyebarkan ilmu yang kudapat. Menyampaikan apa yang aku tahu. Menyebarluaskan ilmu dengan cara menulis dan menerbitkannya.

 

AYOOOOOO…. AKU BISA… BUKTIKAN… JANGAN OMONG DOANG !!!!!!

 

Aku Gagal Menulis

‘Ibu, aku gagal” begitu bunyi WA dari anakku.

“Gagal apanya?” tanyaku kemudian.

“Ga ikut ekstra kurikuler jurnalistik.” katanya

‘Kenapa bisa begitu ?” tanyaku lagi

” Iya, soalnya kemarin setelah pendaftaran, ada seleksi, aku ga lolos.”

“Seleksinya apa?”

” Suruh tulis berita, puisi, cerita dan semacamnya, aku kan ga pernah tulis.”

“Makanya latihan menulis, jadi bisa, kalau ga pernah atau ga biasa nulis ya memang kelihatannya susah”.

Begitu kira-kira percakapan yang terjadi di WA sewaktu anakku menyampaikan kabar ketidakikutsertaannya pada ekstrakurikuler di sekolahnya. Kelihatannya dia agak berminat untuk ikut kegiatan itu, tapi sayangnya selama ini belum ada karya tulis yang dihasilkannya. Kalaupun dia menulis tentang essay, puisi dan sejenisnya itupun hanya sekedar untuk tugas sekolah. Tentu saja frekuensinya jarang dan tidak pernah diulang lagi.

窗体底端

Menulis memang bukan suatu proses yang gampang terjadi. Menulis memang bukan suatu kegiatan yang bisa begitu saja terlaksana. Untuk bisa menulis dengan lancar tentu perlu latihan. Untuk bisa menulis dibutuhkan suatu latihan yang terus-menerus.  Latihan setiap hari, setiap saat, setiap waktu dan selalu menyempatkannya.

 

Tekad demikian tentu saja tidak cuma sekedar niat. Harus diwujudkan, musti terlaksana sehingga kita bisa menghasilkan sebuah karya.

 

Walau nasehat itu sudah berulang kali ditanamkan dalam hati, tetap saja sulit menjalankannya. Kadang-kadang ada saja hal-hal yang menghalanginya. Entah itu kesibukan kerja, entah itu aktivitas lain, yang jelas untuk rutin menulis memang butuh tekad yang kuat, mengupayakan sarana yang memadai dan mencontoh orang-orang yang sukses dengan karya-karya tulisnya.

 

Kita bisa mengamati bagaimana karya-karya mereka, gaya penulisannya, alurnya, sehingga begitu enak dibaca. Kadang ide yang dituangkan begitu sederhana, namun di tangan penulis ahli tersebut menjadi sesuatu yang “wow” disajikan, enak dibaca dan ada hikmah yang bisa dipetik.

 

Kita bisa meniru gaya mereka namun tidak harus menjadi plagiator. Kita bisa meniru bagaimana cara mereka menulis, alurnya dan dengan ide yang kita tuangkan sendiri bisa menghasilkan karya yang original, asli punya kita.

 

Jangan pantang menyerah, jangan mudah putus asa. Walau terkadang kita sudah sempat berhenti tetaplah untuk mencoba bangkit menulis lagi. Jadikan menulis sebagai suatu kegiatan yang menyenangan. Jadikan menulis menjadi suatu kegiatan yang bisa bermanfaat.

 

Walaupun mungkin menulis belum menjadi sesuatu yang menghasilkan namun yakinlah suatu saat akan ada manfaat yang bisa kita ambil. Suatu saat ada kerinduan untuk membaca lagi hasil karya kita.

Buku Ajar Yang Tak Pernah Terbit

Betapa inginnya aku punya buku ajar. Sebagai tenaga pengajar yang sudah malang melintang di dunia pengajaran perguruan tinggi berpuluh tahun tepatnya sejak tahun 1998, (walau sampai saat ini belum juga aku peroleh gelar fungsional) aku termasuk tenaga pengajar yang mandul. Bagaimana tidak? Tak satupun buku ajar pernah aku tulis. Bukan tanpa keingininan sebenarnya, kalau selama ini tak satupun karya pernah dihasilkan.

Keinginan besar menggebu-gebu, namun ketika sudah memulai tak pernah mengakhiri. Ada beberapa konsep yang pernah aku buat, tetapi tak satupun aku selesaikan. Bahkan pernah ada sebuah  penerbitan buku menelpon agar aku mencetakkan bukuku di penerbitannya. Namun ketika aku  mengiyakan, ternyata sampai batas waktu yang kujanjikan karya itu tidak selesai. Aku mengingkari janjiku. Bukan karena tidak punya konsep, namun karena konsep itu tidak selesai.

Mengapa ya, banyak penulis lain yang berhasil menerbitkan buku sedangkan aku sendiri tidak ?

Beberapa kali mengobrol dengan orang-orang yang pernah mencetakkan bukunya, ternyata memang kelemahannya ada pada diriku. Mereka punya niat yang sama, tetapi niat tersebut diwujudkan dengan semangat yang tinggi. Mungkin lebih tepatnya diselesaikan dengan cara keterpaksaan yang tinggi. Mereka dikumpulkan dengan fasilitas dari kantor tempatnya mengajar selama dua hari penuh diworkshopkan di sebuah hotel, tidak diperkenankan keluar hotel, apalagi jalan-jalan, ditambah di tungguin hasil karyanya oleh sebuah percetakan, akhirnya sebuah konsep yang awalnya hanya naskah setengah jadi, mateng dan bisa disetorkan ke penerbit untuk diterbitkan dan jadilah sebuah buku ajar. Sungguh luar biasa bagiku, dengan kesibukan yang nyaris sama, bahkan mungkin beliau-beliau ini lebih sibuk dariku, mereka bisa, kenapa aku tidak?

Pernah juga ada yang cerita, mereka bisa menerbitkan sebuah buku bahkan banyak buku karena punya jadwal tersendiri untuk menyelesaikan sebuah naskah. Mereka meniatkan diri untuk membagi waktu yang sama-sama 24 jam dengan 1-2 jamnya untuk menulis. Secara rutin jadwal tersebut ditaati dan jadilah beberapa karya buku yang luar biasa.

Sekaranglah saatnya aku membuktikan bahwa aku bisa, aku bisa menerbitkan sebuah buku ajar.

Salah satu faktor yang membuat diriku ragu-ragu untuk memasukan buku ajar tersebut ke penerbitan adalah komentar dari pimpinanku. Pada saat aku menyerahkan bahan ajar yang sudah aku buat untuk ditandatangani beliau, aku ditanya “ Kenapa formatnya seperti buku?”. Pertanyaan itu disampaikannya dengan nada tidak setuju, tidak berkenan dengan format yang aku sampaikan. Waktu itu aku menjawab karena ingin punya sebuah buku. Namun beliau tidak berkenan dan memerintahkan aku untuk mengulang printoutnya dengan format lain. Dari situlah naskah buku yang sudah aku buat, diganti formatnya dan keinginan untuk menerbitkan dalam bentuk sebuah buku hilang. Bahkan hingga akhirnya, karena mata hati beliau sudah terbuka, bahwa menerbitkan buku itu penting, beliau memerintahkan aku untuk menyelesaikan naskahnya. Namun betapa kecewanya diriku, ketika kesempatan itu datang, naskahku telah hilang bersama dengan laptop yang diambil orang tak bertanggung jawab dan celakanya lagi aku belum membackup datanya.

Dari awal lagi aku bekerja, dari awal lagi aku memulai. Menata hati, meniatkan diri. Memulai untuk kemudian berharap untuk mengakhiri dengan sebuah naskah buku yang jadi dan siap diterbitkan. Apapun yang terjadi naskah itu harus jadi. Apapun yang terjadi aku harus mampu menerbitkan sebuah buku ajar. Walau hanya sekedar tenaga pengajar yang tidak punya gelar profesional seorang dosen, aku harus bisa menerbitkan sebuah karya. Karya yang menjadi bukti dedikasiku di dunia pengajaran, yakni sebuah buku ajar. Aku harus bisa. Aku memang bisa. Bisa karena keinginanku yang kuat. Bisa karena motivasiku yang dalam, ada atau tidak ada dukungan dari pimpinan.

Daripada naskah yang selama ini terkonsep tanpa hasil, dan tersimpan begitu saja dalam bentuk data. Dengan fasilitas yang sudah aku punya kembali, notebook baru sudah ditangan, dibelikan oleh suami. Aku harus mewujudkannya. Mudah-mudahan aku punya uang untuk menerbitkannya. Semoga aku punya keberanian untuk memasukan ke sebuah penerbitan dan merealisasikannya. Aamiin, semoga Allah meridloi keinginan, harapan, cita-citaku dan langkah yang kulakukan.

Ngomong-ngomong tentang kenapa aku hingga saat ini belum punya gelar profesional seorang dosen, adalah sebuah cerita tersendiri. Lumayan panjang kalau diceritakan, namun intinya hal tersebut terhalang karena aku belum punya karya tulis yang dipublikasikan. Selama ini aku memang tidak memikirkannya. Penelitian yang kulakukanpun hanya berakhir di sebuah laporan. Belum pernah aku menerbitkannya. Ternyata menerbitkan karya penelitian adalah penting. Menjadi bukti eksisinya seorang pengajar perguruan tinggi yang disebut dengan dosen. Menjadi persyaratan untuk disebut dosen profesional. Aku memang terlambat, terlambat menyadari. Namun itu bukan berarti dunia mati. Aku masih bisa untuk memulai. Walau tak sekedar untuk disebut dosen profesioal namun menjadi bukti eksistansi diri bahwa aku ada dengan sebuah karya. Bahwa aku ada membawa manfaat bagi sesama. Menyebarkan ilmu yang kudapat. Menyampaikan apa yang aku tahu. Menyebarluaskan ilmu dengan cara menulis dan menerbitkannya.

 

AYOOOOOO…. AKU BISA… BUKTIKAN… JANGAN OMONG DOANG !!!!!!

Apa Yang Harus Dikerjakan

Apa yang harus dikerjakan? Banyak, banyak sekali kerjaan yang mustinya bisa kukerjakan. Namun saat ini aku bingung aku musti ngapain? Bukan karena tidak ada pekerjaan, tapi bingung apa yang harus dikerjakan. Seringkali hal semacam itu kualami. Ketika banyak waktu tapi bingung harus memulai dari mana?

Memulai, saatnya mulai seharusnya bukan sesuatu yang membingungkan. Kalau saja aku punya perencanaan yang jelas. Kalau saja aku punya tujuan yang jelas, tentunya tidak akan bingung memulai dari mana.

Tapi justru yang menjadi kebingungan adalah apa tujuannya. Kurang jelasnya penetapan tujuan itulah yang menyebabkan aku seringkali bingung harus memulai dari mana. Mau ngapain dulu, mana yang dikerjakan dulu, . aku tak tahu.

Barangkali aku harus mulai menata diri. Menata dari apa yang menjadi tujuanku. Mau dibawa kemana arah jalan hidupku. Mau memulai dari mana pasti bisa dilakukan ketika aku tahu tujuan.

Tidak usahlah tujuan yang muluk-muluk. Tetapkan dulu tujuan dari yang paling sederhana. Tujuan yang aku bisa mencapainya. Tujuan yang mungkin terjangkau. Tujuan yang tidak terlalu berliku. Karena aku bukan orang yang senang dengan tantangan. Aku bukan orang yang tidak gampang menyerah.

Ketika ada tantangan sedikit saja, biasanya aku gampang melempem. Ketika ada sesuatu hal dirasa menyulitkan aku dengan mudahnya menyudahi langkah yang baru saja kuayunkan.

Aku sebenarnya sadar, sangat menyadari kekurangan itu. Namun tidak gampang rasanya untuk meningkatkan motivasi diri. Tidak mudah rasanya memberikan semangat pada diri sendiri. Semangat untuk terus berjuang. Mencapai apa yang menjadi keinginan. Keinginan yang terus menggebu-gebu. Bergejolak dalam hati, namun tidak  seimbang dengan langkah yang diambil.