puji.jpg

Tinggalkan komentar

waktu lagi ngobrol-ngobrol santai sama teman-teman ….

MOHON AMPUNANMU

Tinggalkan komentar

Ampuni aku Ya Allah..

Karena telah berlebihan dalam menikmati karunia kulinermu

Hingga lemak semakin menumpuk

Baju semakin menyempit

 

Ampuni aku Ya Allah..

Seandainya lisan ini telah menyakiti

Mahluk-mahluk lain yang Engkau ciptakan

 

Ampuni aku Ya Allah..

Nafsu dalam tubuh ini telah menyesatkan

Hingga terkadang terjebak dalam khilaf

tak bisa dibatasi

Tinggalkan komentar

kreatifitas itu tak bisa dibatasi. Kebebasan berpendapat tidak bisa dikekang. Di sini pun saya bisa menuangkannya… horeeeeee………….

kalau memang tidak suka dengan apa yang aku tulis, tidak usah dibaca..

AKU YANG TAK SEMPURNA

2 Komentar

AKU YANG TAK SEMPURNA

Hanya sekedar catatan yang menyatakan tentang rasa hati

puji.jpg

Tinggalkan komentar

IUFD

Tinggalkan komentar

A. PENGERTIAN
IUFD adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan baik pada kehamilan yang besar dari 20 minggu atau kurang dari 20 minggu (Rustam Muchtar, 1998)
IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna dari rahim ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan (Sarwono, 2005)
IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr)
IUFD Adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan. Kematian janin dalam kandungan (KJDK) atau intra uterine fetal deadth (IUFD), sering dijumpai baik pada kehamilan dibawah 20 minggu maupun sesudah kehamilan 20 minggu
Sebelum 20 minggu :
Kematian janin dapat terjadi dan biasanya berakhir dengan abortus.Ø Bila hasil konsepsi yang sudah mati tidak dikeluarkan dan tetap tinggal dalam rahim disebut missed abortion.
Sesudah 20 minggu :
Biasanya ibu telah merasakan gerakan janin sejak kehamilan 20 mingguØ dan seterusnya. Apabila wanita tidak merasakan gerakan janin dapat disangka terjadi kematian dalam rahim.

B. ETIOLOGI
Penyebab IUFD antara lain:
1. Faktor plasenta
a. Insufisiensi plasenta
b. Infark plasenta
c. Solusio plasenta
d. Plasenta previa
2. Faktor ibu
a. Diabetes mellitus
b. Preeklampsi dan eklampsi
c. Nefritis kronis
d. Polihidramnion dan oligohidramnion
e. Shipilis
f. Penyakit jantung
g. Hipertensi
h. Penyakit paru atau TBC
i. Inkompatability rhesus
j. AIDS
3. Faktor intrapartum
a. Perdarahan antepartum
b. Partus lama
c. Anastesi
d. Partus macet
e. Persalinan presipitatus
f. Persalinan sungsang
g. Obat-obatan
4. Faktor janin
a. Prematuritas
b. Postmaturitas
c. Kelainan bawaan
d. Perdarahan otak
5. Faktor tali pusat
a. Prolapsus tali pusat
b. Lilitan tali pusat
c. Vassa praevia
d. Tali pusat pendek

Kecuali itu, ada berbagai penyebab yang bisa mengakibatkan kematian janin di kandungan, diantaranya:
Ketidakcocokan rhesus darah ibu dengan janin.Ø
Akan timbul masalah bila ibu memiliki rhesus negatif, sementara bapak rhesus positif. Sehingga anak akan mengikuti yang dominan; menjadi rhesus positif. “Akibatnya antara ibu dan janin mengalami ketidakcocokan rhesus.”
Ketidakcocokan ini akan mempengaruhi kondisi janin tersebut. Misalnya, dapat terjadi hidrops fetalis; suatu reaksi imunologis yang menimbulkan gambaran klinis pada janin, antara lain pembengkakan pada perut akibat terbentuknya cairan berlebih dalam rongga perut (asites), pembengkakan kulit janin, penumpukan cairan di dalam rongga dada atau rongga jantung, dan lain-lain. Akibat penimbunan cairan yang berlebihan tersebut, maka tubuh janin akan membengkak. “Bahkan darahnya pun bisa tercampur air.” Biasanya kalau sudah demikian, janin tak akan tertolong lagi.
Sebenarnya, terang Nasdaldy, hidrops fetalis merupakan manifestasi dari bermacam penyakit. Bisa karena kelainan darah, rhesus, atau kelainan genetik. “Biasanya bila kasusnya hidrops fetalis, maka tak ada manfaatnya kehamilan dipertahankan. Karena memang janinnya pasti mati.” Sayangnya, seringkali tidak dilakukan otopsi pada janin yang mati tersebut, sehingga tidak bisa diketahui penyebab hidrops fetalis. “Padahal dengan mengetahui penyebabnya bisa untuk tindakan pencegahan pada kehamilan berikutnya.”
Ketidakcocokan golongan darah antara ibu dan janin.Ø
Terutama pada golongan darah A,B,O. “Yang kerap terjadi antara golongan darah anak A atau B dengan ibu bergolongan O atau sebaliknya.” Sebab, pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka ibu akan membentuk zat antibodinya.
Gerakan sangat “liar”.Ø
Gerakan bayi dalam rahim yang sangat berlebihan, terutama jika terjadi gerakan satu arah saja. karena gerakannya berlebihan, terlebih satu arah saja, maka tali pusat yang menghubungkan janin dengan ibu akan terpelintir. Kalau tali pusat terpelintir, maka pembuluh darah yang mengalirkan plasenta ke bayi jadi tersumbat.” Kalau janin sampai memberontak, yang ditandai gerakan “liar”, biasanya karena kebutuhannya ada yang tidak terpenuhi, entah itu karena kekurangan oksigen, atau makanan. Karena itu, harus segera dilakukan tindakan yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan janin. Misalnya, apakah oksigen dan gizinya cukup? Kalau ibu punya riwayat sebelumnya dengan janin meninggal, maka sebaiknya aktivitas ibu jangan berlebihan. “Sebab, dengan aktivitas berlebihan, maka gizi dan zat makanan hanya dikonsumsi ibunya sendiri, sehingga janin relatif kekurangan.”
Berbagai penyakit pada ibu hamil.Ø
Salah satu contohnya preeklampsia dan diabetes. Itulah mengapa pada ibu hamil perlu dilakukan cardiotopografi (CTG) untuk melihat kesejahteraan janin dalam rahim.
Kelainan kromosom.Ø
Bisa disebut penyakit bawaan, misalnya, kelainan genetik berat trisomy. “Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi saat kematian udah terjadi, yaitu dari otopsi bayi.” Sebab, ungkap Nasdaldy, jarang sekali dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam kandungan. “Selain biayanya mahal, risikonya juga tinggi. Karena harus mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar terinfeksi, juga bisa lahir prematur. Kecuali kalau memang ada keganjilan dalam kehamilan tersebut yang dicurigai sebagai kelainan kromosom.”
Trauma saat hamil.Ø
Trauma bisa mengakibatkan terjadi solusio plasentae atau plasenta terlepas. Trauma terjadi, misalnya, karena benturan pada perut, entah karena kecelakaan atau pemukulan. “Benturan ini bisa saja mengenai pembuluh darah di plasenta, sehingga timbul perdarahan di plasenta atau plasenta lepas sebagian. Akhirnya aliran darah ke bayi pun jadi tak ada.”
Infeksi pada ibu hamil.Ø
Ibu hamil sebaiknya menghindari berbagai infeksi, seperti infeksi akibat bakteri maupun virus. “Bahkan demam tinggi pada ibu hamil bisa menyebabkan janin tak tahan akan panas tubuh ibunya.”
Kelainan bawaan bayi.Ø
Kelainan bawaan pada bayi sendiri, seperti jantung atau paru-paru, bisa engakibatkan kematian di kandungan.

C. PATOFISIOLOGI
Janin bisa juga mati di dalam kandungan (IUD) karena beberapa factor antara lain gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan,hal tersebut menjadi berbahaya karena suplai makanan yang di konsumsi ibu tidak mencukupi kebutuhan janin. Sehingga pertumbuhan janin terhambat dan dapat mengakibatkan kematian. Begitu pula dengan anemia, karena anemia adalah kejadian kekurangan FE maka jika ibu kekurangan Fe dampak pada janin adalah irefersibel. Kerja organ – organ maupu aliran darah janin tidak seimbang dengan pertumbuh janin ( IUGR)

D. FAKTOR PREDISPOISISI
1. factor ibu (High Risk Mothers)
a. status social ekonomi yang rendah
b. tingkat pendidikan ibu yang rendah
c. umur ibu yang melebihi 30 tahun atau kurang dari 20 tahun
d. paritas pertama atau paritas kelima atau lebih
e. tinggi dan BB ibu tidak proporsional
f. kehamilan di luar perkawinan
g. kehamilan tanpa pengawasan antenatal
h. ganggguan gizi dan anemia dalam kehamilan
i. ibu dengan riwayat kehamilan / persalinan sebelumnya tidak baik seperti bayi lahir mati
j. riwayat inkompatibilitas darah janin dan ibu
2. factor Bayi (High Risk Infants)
a. bayi dengan infeksi antepartum dan kelainan congenital
b. bayi dengan diagnosa IUGR (Intra Uterine Growth Retardation)
c. bayi dalam keluarga yang mempunyai problema social
3. factor yang berhubungan dengan kehamilan
a. abrupsio plasenta
b. plasenta previa
c. pre eklamsi / eklamsi
d. polihidramnion
e. inkompatibilitas golongan darah
f. kehamilan lama
g. kehamilan ganda
h. infeksi
i. diabetes
j. genitourinaria

E. TANDA DAN GEJALA
1. Ibu tidak merasakan gerakan janin
Diagnosis :
Nilai DJJ.v
Bila ibu mendaptkan sedatif, tunggu hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang.v
Bila DJJ abnormal,lihat penatalaksanaan DJJ abnormal.v
Bila DJJ tidak terdengar, pastikan adanya kematian janin dengan stetoskop ( Doppler).v
Bila DJJ baik,berarti bayi tidur.v
Rangsang janin dengan rangsangan suara (bel) attau denganv menggoyangkan perut ibu sehingga ibu merasakan gerakan janin. Bila DJJ meningkat frekuensinya sesuai dengan gerakan janin, maka janin dapat dikatakan normal.
Bila DJJ cenderung turun saat janin bergerak, maka dapat disimpulkan adanya gawat janin.v

2. Gerakan janin tidak dirasakan lagi
Diagnosis :
Gejala dan tannda selau ada Gejala dan tanda kadang – kadang ada Diagnosis kemungkinan
Gerakan janinberkurang atau hilang.
Nyeri perut hilang timbul atau menetap
Perdarahan pervaginam sesudah hamil 22 minggu. Syok

Uterus tegang / kaku.

Gawat janin atau DJJ tidak terdengar. Solusio plasenta
Gerakan janin dan DJJ tidak ada
Perdarahan
Nyeri perut hebat Syok
Perut kembung / cairan bebas intra abdominal
Kontur uterus abnormal
Abdomen nyeri
Bagian – bagian janin teraba
Denyut nadi bu cepat Rupture uteri
Gerakan janin berkurang atau hilang
DJJ abnormal(<100/menit atau >140/ menit) Cairan ketuban bercampur mekonium Gawat janin
Gerakan janin / DJJ hilang Tanda – tanda kehamilan berhenti
Tinggi fundus uteri berkurang
Pembesaran uterus berkurang Kematian janin
F. PENILAIAN KLINIK
Pertumbuhan janin (-),bahkan jiniin mengecil sehingga TFU menurun.Ø
Bunyi DJJ tidak terdengar dengan stetoskop dan pastikan dengan Doppler.Ø
Keluhan ibu n.Ø
Berat badan ibu menurun.Ø
Tulang kepala kolaps.Ø
USG : untuk memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukan janin tanpa tanda kehidupan.Ø
Pemeriksaan HCG urin menjadi negatif.Ø
Komplikasi :Ø
Trauma emosional yang berat menjadi bila watuu antara kematian janin dan persalinan cukup lama.Ø
Dapat terjadi infeksi bila ketuban pecah.Ø
Dapat terjadi koagulopati bila kematian janin berlangsung lebih dari 2 minggu.Ø

G. JENIS – JENIS PERSALINAN UNTUK JANIN MATI
Kematian janin dapat di bagi menjadi 4 golongan:
Golongan l : Kematian sebelum masa hamil mencapai 20 minggu penuh.
Golongan ll : Kematian sesudah ibu hamil 20 minggu hingga 28 minggu.
Golongan lll :Kematian sesudah kehamilan lebih dari 28 minggu (Late Fetal Death).
Golongan lV : Kematian yang tidak dapat di golongkan pada kertiga golongan diatas.
Jenis – jenis pertolongan persalinan untuk janin matiØ
1. Pertolongan persalinan dengan perforasi kronioklasi
Perforasi kronioklasi merupakan tindakan beruntun yang dilakukan pada bayi yang meninggal di dalam kandunagan untuk memperkecil kepala janin dengan perforation dan selanjutnya menarik kepala janin ( dengan kranioklasi) tindakan ini dapat dilakukan pada letak kepala oleh letak sungsang dengan kesulitan persalinan kepala.Dngan kemajuan pengawasan antenatal yang baik dan system rujukan ke tempat yang lebih baik , maka tindakan proferasi dan kraioklasi sudah jarang dilakukan.
Bahaya tindakan proferasi dan kraniioklasi adalah perdarahan infeki, trauma jalan lahir dan yang paling berat ruptira uteri( pecah robeknya jalan lahir).
2. Pertolongan persalinan dengn dekapitasi
Letak lintang mempunyai dan merupakan kedudukan yang sulit untuk dapat lahir normal pervaginam. Gegagalan pertolongan pada letak lintang menyebabkan kematian janin, oleh karena itu kematian janin tidak layak dilkukan dengan seksio sesaria kecuali pada keadaan khusus seperti plasenta previa totalis, kesempitan panggul absolute. Perslinan di lakukan dengan jalan dekapitasi yaitu dengan memotong leher janin sehingga badan dan kepala janin dapat di lahirkan,
3. Pertolongan persalinan dengan eviserasi
Eviserasi adalah tindakan operasi dengan mengeluarkan lebih dahulu isi perut dan paru (dada) sehingga volume janin kecil untuk selanjutnya di lahirkan.
Eviserasi adalah operasi berat yang berbahaya karena bekerja di ruang sempit untuk memperkecil volume janin bahaya yang selalu mengancam adalah perdarahan,infeksi dan trauma jalan lahir dengan pengawasan antalnatal yang baik, situasi kehamilan dengan letek lintang selalu dapat di atasi dengan versi luar atau seksio sesaria.
4. Pertolongan persalinan dengan kleidotomi
Kleidotomi adalah memotong tulang klavikula (tulang selangka) sehingga volume bahu mengecil untuk dapat melahirkan bahu. Kleidotomi masih dapat dilakukan pada anak hidup, bila diperlukan pada keadaan gangguan persalinan bahu pada anak yan besar.

H. DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin sangat berkurang. Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya. Atau wanita belakangan ini merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti mau melahirkan.
2. Inspeksi
Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu yang kurus.
3. Palpasi
Tinggi fundus > rendah dari seharusnya tua kehamilan, tidak teraba gerakanan janin. Dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.
4. Auskultasi
Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan Deptone akan terdengar DJJ.
5. Reaksi kehamilan
Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan.
6. Rontgen Foto Abdomen
Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin
Tanda Nojosk : adanya angulasi yang tajam tulang belakang janin.
Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang leher janin
Tanda Spalding : overlaping tulang-tulang kepala (sutura) janin
Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat.
7. Ultrasonografi
8. Tidak terlihat DJJ dan gerakan-gerakan janin.

I. PENANGANAN PERTOLONGAN PERTOLONGAN PERSALINAN IUFD
Penangan umumØ
Berikan dukungan emosional pada ibu-
Nilai DJJ-
Nilai ibu mendapa sedative, tungg hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang.-
Bila DJJ tidak terdengar minta beberapa orang mendengarkan menggunakan setetoskop dopler.-
Penanganan pada masa persalinanØ
Kematian janin-
Kematian dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak terobati.
Jika pemeriksaan radiologic tersedia, konfirmasi kematian janin setelah lima hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang engkorak, hiperfleksi kolumna, vertebralis, gelembung udara didlam jantung dan edema scalp.
USG adalah sarana penunjang diagnostic yang baik untuk memastikan- kematian janin dimana gambarannya menunjukan janin tanpa tanda hidup: tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala janin dan cairan ketuban berkurang.
Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien selalu- didampingi oleh orang terdekatnya. Yakinkan bahwa besar kemungkinan dapat jhir per vaginal.
Pilihlah cra persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum keputsan diambil.
Bila pilihan penangasalinan nan adlah akspetif:
o Tunggu persalinan spontan hingg dua minggu
o Yakinkan bahwa 90% persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi.
o Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan,lakukan penaganan aktif
o Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai serviks:
o Jika serviks matang, lakukann induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.
o Jika serviks belum mtang, lakukan pematangan serviks dengan prostaglandin atau kateter foley.
Catatan: janagan lakukan amniotomi Karena beresiko infeksi.
Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternative terakhir
Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol:
Tempatkan misoprostol 25mcg di puncak vagina, dapat di ulani sesudah 6 jam-
Jika tidak ada respon sesudah 2x25mcg misoprotol, naikan dosis menjadi 50mcgmenjadi setiap 6 jam.-
Catatan: jangan biarkan lebih dari 50mcg setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis
Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotic untuk metritis-
Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah, waspadai koagulopati-
Berikan kesempatan kepada ibu dan keluarganya untuk melihat dan melakukan berbagai kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.
Pemerikasaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya patologi plasenta dan infeksi.

ANATOMI PELVIS

Tinggalkan komentar

Tanda-tanda wanita yang mulai memasuki masa pubertas dengan menstruasi pertama atau nama lainnya menarche, uterus dan vagina membesar, buah dada membesar serta jaringan ikat pada dan saluran darah bertambah, sifat kelamin sekunder tampil, lengkung tubuh berkembang, adanya bulu ketiak dan pubis pelvis melebar.

Rongga pelvis yang membesar ini terletak di bawah, berhubungan dengan rongga abdomen, yang dibentuk oleh Os. Iski  dan Os.Pubis pada sisi samping dan depan, Os. Sakrum dan Os. Koksigis membentuk batas belakang dan pinggiran pelvis dibentuk oleh promontorium sakrum di belakang iliopektinal sebelah sisi samping dan depan dari tulang sakrum.

Lalu pintu keluar pelvis (pintu bawah) dibatasi oleh Os. Koksigis di belakang simfisis pubus, di depan lengkung Os. Pubis, Os. Iski, serta ligamentum yang berjalan dari  Os. Iski dan Os. Sakrum disetiap sisi, pintu keluar ini membentuk lantai pelvis. Lantai pelvis ini yang di bentuk oleh 2 berkas otot M. Levator ani dan  M. Koksigis yang bekerja sebagai diapragma pelvis.

Ada perinium yang merupakan bagian terendah dari badan berupa sebuah garis yang menyambung kedua tuberositas iski, daerah depan segitiga kongenitial dan bagian belakang segitiga anal, titik tengahnya disebut badan perineum terdiri dari otot fibrus yang kuat di sebelah depan anus.

Sedangkan isi pelvis ada kandung kemih dan 2 buah ureter terletak di belakang simfisis, kolon sigmoid sebelah kiri foa iliaka dan rektum yang terletak di sebelah belakang rongga mengikuti lengkung sakrum. Kelenjar limfe, serabut saraf fleksus lumbo sakralis untuk anggota gerak bawah cabang pembuluh darah arteri iliaka interna dan vena iiaka interna yang melengkapi isi rongga pelvis.

  1. BAGIAN PANGGUL WANITA

Pelvis wanita terdiri atas :

  1. 1.      Os. Coxae

Terletak disebelah samping dan depan dari pelvis wanita. Terdiri dari 3 tulang penyusun, yaitu : Os. Ilium, Os. Ischium, dan Os. Pubis.

  • Os.Ilium
    Os. Ilium merupakan tulang terbesar dari panggul dan membentuk bagian atas dan belakang panggul. Memiliki permukaan anterior berbentuk konkaf yang disebut fossa iliaca. Bagian atasnya disebut Krista iliaca. Ujung-ujung disebut Spina Iliaca anterior superior dan spina Iliaca posterior superior. Terdapat tonjolan memanjang dibagian dalam Os. Ilium yang membagi pelvis mayor dan pelvis minor disebut linea innominata (linea terminalis).
  • Os.Ischium

Terdapat disebelah bawah Os. Ilium. Merupakan tulang yang tebal dengan tiga tepi di belakang foramen obturator. Os. Ichium merupakan bagian terendah dari Os. Coxae. Memiliki tonjolan di bawah tulang duduk yang sangat tebal disebut Tuber Ischii berfungsi sebagai penyangga tubuh sewaktu duduk.

  • Os.Pubis

Terdapat disebelah bawah dan depan Os. Ilium. Dengan tulang duduk dibatasi oleh Foramen obturatum. Terdiri atas korpus (mengembang kebagian anterior). Os. Pubis terdiri dari ramus superior (meluas dari korpus ke asetabulum) dan ramus inferior (meluas ke belakang dan berat dengan ramus ischium). Ramus superior Os. Pubis berhubungan dengan dengan Os.Ilium, sedangkan ramus inferior kanan dan kiri membentuk arkus pubis. Ramus inferior berhubungan dengan Os. ischium.

  1. 2.      Os.Sacrum

Tulang ini berbentuk segitiga dengan lebar dibagian atas dan mengecil dibagian bawahnya. Tulang kelangkang terletak di antara kedua tulang pangkal paha yang terdiri dari dan mempunyai ciri:

  • Os. sacrum berbentuk baji, terdiri atas 5 Vertebra sacralis.
  • Vertebra pertama paling besar, mengahadap ke depan. Pinggir atas vertebra ini dikenal sebagai promontorium, merupakan suatu tanda penting dalam penilaian ukuran-ukuran panggul.
  • Di kanan dan kiri, garis tengah terdapat lubang yang akan dilalui saraf: foramina sacralis anterior.

 

  1. 3.      Os.Coccygis

Berbentuk segitiga dengan ruas 3 sampai 5 buah bersatu. Pada saat persalinan, Os. Coccygis dapat didorong ke belakang sehingga dapat memperluas jalan lahir.

  1. PELVIS
  1. Sendi Pelvis

Terdapat 4 sendi pelvis yaitu :

  1. 1.       Sacroiliaca
  • Sebagai penghubung Os. Sacrum dan Os. Ilium. Memungkinkan gerakan terbatas ke depan dan ke belakang.
  • Pergeseran yang terlalu lebar pada articulatio ini sering menyebabkan rasa nyeri pada persendian.
  1. 2.      Simphisis pubis
  • Terbentuk dari hubungan 2 Os.Pubis
  • Merupakan articulatio cartilagenia dan sendi amphiarthrosis yang pergerakan sendinya lebih sedikit.
  • Longgarnya hubungan Simphisis pubis ini dapat menimbulkan simfisiolisis yang terasa sangat nyeri.
  1. 3.      Articulatio sacroocygea
  • Memiliki hubungan dengan Os. Sacrum dan Os. Coccygeus.
  • Adanya sendi ini memungkinkan Os. Coccygeus tertekan ke belakang pada waktu kepala janin lahir.
  1. Ligamen-ligamen Pelvis
  • Ligamen yang menghubungkan Os. Sacrum dengan Os. Ilium pada articulatio sacroiliaca merupakan yang terkuat di seluruh tubuh.
  • Ligamen Sacrotuberosum mengikat sacrum dengan tuber ischii, sedang ligamen sacrospinosum menghubungkan sacrum dengan spina ischiadika. Kedua ligamen ini membentuk dinding posterior dari pintu bawah panggul.
  1. Bagian – bagian Pelvis

Secara fungsional panggul terdiri atas 2 bagian yang disebut pelvis mayor dan pelvis minor.

  1. 1.      Pelvis Mayor
  • Bagian pelvis di atas linea terminalis, yang tidak banyak kepentingannya dalam obsetri.
  1. 2.      Pelvis Minor
  • Dibatasi oleh pintu atas panggul (inlet) dan pintu bawah panggul (outlet).
  • Pelvis minor berbentuk saluran yang mempunyai sumbu lengkung ke depan (sumbu carus).
  1. 3.      Pintu atas Pelvis
  • Merupakan satu bidang yang dibatasi sebelah posterior oleh promontrium, di lateral oleh linea terminalis dan anterior oleh pinggir atas symphisis.
  • Pada pelvis ginekoid pintu atas panggul hampir bundar, kecuali di daerah promontrium agak masuk sedikit.
  • Ukuran pintu atas pelvis yaitu :
    • Diameter anteroposterior yang di ukur dari promontorium sampai ke tengah permukaan posterior symphisis. Diameter anteroposterior disebut juga konyugata obsetrika.
    • Konyugata diagonalis yaitu jarak bagian bawah symphisis sampai ke promontorium, yang dapat diukur dengan memasukkan jari tengah dan telunjuk ke dalam vagina dan mencoba meraba promontorium. Pada panggul normal promontorium tidak teraba dengan jari yang panjangya 12 cm.
    • Konyugata Vera yaitu jarak pinggir atas symphisis dengan promontorium diperoleh dengan mengurangi konyugata diagonalis dengan 1,5 cm.
    • Diameter tranversa adalah jarak terjauh garis lintang pintu atas panggul, biasanya sekitar 12,5 – 13 cm.
    • Diameter Oblikua, yaitu garis yang dibuat antara persilangan konyugata vera dengan diameter tranversa ke articulation sacroiliaca yang panjangnya sekitar 13 cm.
  1. 4.      Ruang Pelvis
  • Merupakan saluran di antara pintu atas panggul dan pintu bawah panggul.
  • Dinding anteriornya sekitar 4 cm terdiri atas os pubis dengan symphisisnya.
  • Dinding posteriornya dibentuk oleh os sacrum dan os coccygeus, sepanjang kurang lebih 12 cm, Karena itu ruang panggul berbentuk saluran denagn sumbu melengkung ke depan.
  1. Jenis Pelvis meurut Caldwell-Moloy
  1. Pelvis Ginekoid : ditemukan pada 45% wanita. Panjang diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter tranversa.
  2. Pelvis Android : bentuk pintu atas panggul hampir segitiga. Walaupun diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter tranversa, tetapi diameter tranversa dekat dengan sacrum. Bagian dorsal dari pintu atas panggul gepeng, bagian ventral menyempit ke muka. Ditemukan 15% pada wanita.
  3. Pelvis Antropoid : ditemukan pada 35% wanita. Bentuk pintu atas panggul agak lonjong seperti telor. Diameter anteroposterior lebih besar daripada diameter tranversa
  4. Pelvis Platipelloid : Ditemukan pada 5% wanita. Diameter tranversa lebih besar daripada diameter anteroposterior.
  1. ORGAN REPRODUKSI WANITA

Genetalia pada wanita terpisah dari uretra yang mempunyai saluran tersendiri. Alat reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian yaitu alat genitial luar  (vulva) dan alat genitia dalam.

  1. Alat genitial luar (vulva)

 

 

Alat genitial luar terdiri dari :

  • Tundun (Monsveneris).

Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area ini mulai ditumbuhi bulu pada masa pubertas.

  • Labiya mayora (bibir besar)

Merupakan dua lipatan dari kulit diantara kedua paha bagian atas labiya mayora, banyak mengandung urat saraf.

  • Labiya minora (bibir kecil)

Berada di sebelah dalam labiya mayora.

  • Klitoris (klentit)

Sebuah jaringan ikat erektil kecil kira-kira sebesar kacang hijau dimana dapat mengeras dan tegang (erktil) yang mengandung urat saraf.

  • Vestibulum (serambi)

Merupakan rongga yang berada diantara bibir kecil (labiya minora), muka belakang dibatasi klitoris dan perineum, dalam vestibulum terdapat muara-muara dari:

  1. Liang senggama (introetus vagina)
  2. Uretra
  3. Kelenjar bartolini
  4. Kelenjar skene kiri dan kanan
  • Himen (selaput dara)

Yaitu lapisan tipis yang menutupi sebagian bsar liang senggama, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar, letaknya mulut vagina pada bagian ini, bentuknya berbeda-beda ada yang seperti bulan sabit, konsistensi ala yang kaku dan ada yang lunak, lubangnya ada yang seujung  jari, ada yang dapat dilalui satu jari.

  • Perineum (kerampang)

Terletak di antara vulva dan anus. Panjangnya lebih kurang 4 cm.

  1. Alat genetalia dalam

         

 

Suatu alat reproduksi yang berada di dalam yang tak dapat dilihat kecuali dengan jalan pembedahan. Alat genetalia bagian dalam terdiri dari:

  • Vagina (liang kemaluan)

             

           Yaitu tabung yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris khusus dialiri banyak pembuluh dara dan serabut saraf. Panjangnya dari vestibulum sampai uterus 7 ½ cm. Merupakan penghubung antara introlus vagina dan uterus, dinding depan liang senggama (vagina) 9 cm, lebih pendek dari dinding blakang. Pada puncak vagina menonjol leher rahim(servik uteri) yang disebut porsio. Bentuk vagina sebelah dalam berlipat lipat disebut rugae.

  • Uterus (rahim)

        

Yakni organ yang tebal, berotot berbentuk buah pir, terletak di dalam pelvis antara rektum di belakang dan kandung kemih di depan, otonya disebut miometrium. Uterus terapung di dalam pelvis dengan jaringan ikat dan ligament. Panjang uterus kurang  lebih 7 ½ cm. Lebar 5 cm. Tebal 2 ½ cm. Berat 50 gr. Pada rahim wanita dewasa yang belum pernah menikah (bersalin) panjang uterus adalah 5-8 cm, dan beratnya 30-60 gr.

Uterus ini terdiri dari:

  1. 1.      Fundus uteri (dasar rahim).

Bagian uterus yang terletak antara kedua pangkal saluran telur.

  1. 2.      Korpus uterus.

Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan. Bagian ini berfungsi sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim.

  1. 3.      Servik uteri.

Merupakan ujung servik yang menuju puncak vagina disebut porsio, hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium uteri interferum.

Sedangakan dinding uterus terdiri dari:

  1. Endometrium (epitel, kelenjar, jaringan dan pembuluh darah), merupakan lapisan dalam uterus ynag mempunyai arti penting dalam siklus haid. Seorang wanita pada masa reproduksi. Pada kehamilan endrometrium akan menebal, pembuluh darah bertambah banyak hal ini diperlukan untuk memberi makanan pada janin.
  2. Miometrium (lapisan otot polos). Tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya keluar pada waktu persalinan. Sesudah plasenta lahir akan mengalami pengecilan sampai keukuran normal sebelumnya.
  3. Lapisan serosa(peritoneum viseral). Terdiri atas ligamentum yang menguatkan uterus yaitu:
    1. Ligamentum kardinale kiri dan kanan, mencegah supaya uterus tidak turun.
    2. Ligamentum sakro uterinum kiri dan kanan, menahan uterus supaya tidak banyak bergerak.
    3. Ligamentum rotundum kiri dan kanan, menahan uterus agar tetap dalam keadaan anatofleksi.
    4. Ligamentum latum kiri dan kanan, ligamentum yang meliputi tuba.
    5. Ligamentum infundibulo pelvikum, ligamen yang menahan tubafalopi.
  • Fungsi uterus

untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan, sebutir ovum yang telah keluar dari ovarium dihantarkan melalui tuba uterina ke uterus. Pembuahan ovum secara normal terjadi di dalam tuba uterina, endometrium disiapkan untuk menerima ovum yang telah di buahi dan ovum tertanam endometrium. Pada waktu hamil uterus bertambah besar dindingnya bertambah tipis tetapi kuat dan besar sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan janin.

Pada saat melahirkan uterus berkontraksi mendorong bayi dan plasenta keluar.

  • Ovarium

Merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan uterus di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke 14) siklus menstruasi.

Ovulasi yaitu pematangan folikel graaf dan mengeluarkan ovum. Bila folikel graaf robek maka terjadi pendarahan yang kemudian terjadi penggumpalan darah pada ruang folikel.

Ovarium mempunyai 3 fungsi, yaitu:

v  Memproduksi ovum

v  Memproduksi hormon estrogen

v  Memproduksi progesteron

Ovarium, disebut juga indung telur, di dalam ovarium ini terdapat jaringan bulbus dan jaringan tubulus yang menghasilkan telur (ovum) dan ovarium ini hanya terdapat pada wanita, letaknya di dalam pelvis di sebelah kanan uterus, membentuk, mengembangkan serta melepaskan ovum dan menimbulkan sifat-sifat kewanitaan. Misalnya pelvis yang membesar, timbulnya siklus menstruasi.

Bentunya bulat telur, beratnya 5-6 gram. Bagian dalam ovarium disebut medula ovari dibuat dari jaringan ikat. Jaringan yang banyak mengandung kapiler darah dan serabut kapiler saraf.

Bagian luar bernama korteks ovari,terdiri dari folikel-folikel yaitu kantong-kantong kecil yang berdinding epitelium dan berisi ovum. Kelenjar ovarika terdapat pada wanita terletak pada ovarium di samping kiri dan kanan uterus, menghasilkan hormon progesteron dan esterogen. Hormon ini dapat mempengaruhi kerja menentukan sifat-sifat kewanitaan. Misalnya, panggul besar, panggul yang sempit dan lain-lain.

Apabila folika de graaf sobek maka terjadi  penggumpalan darah di dalam rongga folikel dan sel yang berwarna kuning yang berasal dari dinding folikel masuk ke dalam gumpalan itu dan membentuk korpus luteum (badan kuning). Bila ovum yang keuar dibuahi maka korpus luteum tumbuh terus sampai beberapa bulan menjadi besar. Bila ovum tidak dibuahi maka korpus luteum bertahan hanya selama 12 sampai 14 hari tepat sebelum masa menstruasi berikutnya korpus luteum menjadi atropi.

Siklus menstruasi sendiri merupakan perubahan yang terjadi di dalam ovarium dan uterus dimana masa menstruasi berlangsung kira-kira 5 hari, selama masa ini epitelium permukaan dinding uterus terlepas dan terjadi sedikit perdarahan. Masa setelah menstruasi adalah masa perbaikan dan pertumbuhan yang berlangsung sembilan hari ketika selaput terlepas untuk diperbahrui, tahap ini di kendalikan oleh estrogen, sedangkan pengendalian estrogen dikendalikan oleh FSH (Follicle Stimulating Hormone) terjadi pada hari ke 14, kemudian disusul 14 hari tahap sekretorik yang dikendalikan oleh progesteron.

  • Tuba fallopi

Terdapat pada daerah lateral kanan dan kiri. Ada 2 saluran telur kiri dan kanan. Panjang kira-kira 12 cm dan diameter3-8 mm. Tuba fallopi ini terdiri dari:

a)      Parst interstialis, bagian yang terdapat di dinding uterus.

b)      Parst isimika/ismus, merupakan bagian medial tuba yang sempit selurunya.

c)      Parst, ampularis, bagian yang terbentuk saluran leher tempat konsepsi agak lebar.

d)     Infundibulum, bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan mempunyaiumbai yang disebut fimbria untuk menangkap telur kemudian menyalurkan telur ke dalam tuba.

Fungsi tuba urenia yakni mengantarkan ovum dari ovarium ke uterus. Menyediakan tempat untuk pembuahan, perjalanan  ovum dibuahi maka terjadi kehamilan ektopik, karena ovum tidak dapat bergerak terus maka ovum tertanam dalam tempat yang abnormal, hal ini bisa berlangung 8-10 minggu.

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.